16.9.15

Info Kristian

Wajah Yesus

https://sonlightpicturesblog.wordpress.com/2011/04/28/the-actual-face-of-jesus/

http://randalldsmith.com/following-his-footsteps-that-pesky-jesus-problem-matthew-271-54/

https://melaniejeanjuneau.wordpress.com/2014/04/12/the-face-of-christ/


info pelukis dll
http://bigwignation.com/podcast/akiane-kramarik/

http://carlosrull.com/akiane-amazing-12-year-old-art-prodigy/

http://blog.godreports.com/2012/01/for-child-art-prodigy-akiane-jesus-is-for-real/

http://www.philstar.com/entertainment/2015/04/05/1440408/what-colton-saw-heaven

29.6.15

Wow !! 11889 pageviews

Shallom,
ramai juga yg dah view blog ni sejak dibuka ..
11889 pageviews
mudah2an info2 berguna akan dapat membantu anda 


16.11.12

Amos 4:1-5 Judul: Perpuluhan+dosa = sia-sia+hukuman Perpuluhan ditambah dosa adalah kesia-siaan dan hukuman! Misalnya, ada seorang pemuda yang rajin ke gereja, bersaat teduh, berdoa, dan rutin memberi persembahan. Isi rumah, berbagai gadget, bahkan akun facebook miliknya pun kental dengan nuansa rohani. Namun, ia rajin juga ke pelacuran tiap minggu, suka mabuk-mabukan, dan selalu mempertebal isi kantongnya dengan penipuan, pemerasan, dll. Hidup terpecah-belah saling berlawanan seperti itulah yang dikecam oleh nas ini. Amos mengecam kehidupan bangsa Israel melalui dua nas yang terpisah. Ayat 1-3, para wanita kalangan atas di Samaria dikecam karena gemar memeras dan menindas orang-orang yang lemah, dan bahkan sigap mengajak suami mereka untuk menghidangkan minuman keras dan berpesta-pora. Hukuman bagi mereka sudah jelas, yaitu turut binasa bersama kehancuran kota Samaria. Di ayat 4-5, yang juga bersambungan dengan ay. 6-13, Amos menyindir kehidupan seluruh bangsa Israel Utara yang tidak konsisten: mereka rajin memberi persembahan dan perpuluhan, tetapi rajin juga berbuat dosa. Mereka hanya setia pada formalitas ibadah yang dibatasi ritus-ritus kesalehan dan persembahan. Sebaliknya, dasar etis tentang kehidupan sebagai umat Allah yang kudus justru dibuang jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Bagi Allah, yang seperti ini layak diganjar hukuman! Nas ini menjadi peringatan bagi kita. Setiap orang Kristen semestinya menghayati teologi persembahan yang tepat. Persembahan adalah ungkapan syukur kepada Allah atas berkat-berkat yang Ia berikan melalui pekerjaan yang dilakukan di dalam kebenaran dan kekudusan. Persembahan tidak lepas dari kehidupan orang yang memberi persembahan. Nasihat Paulus memerintahkan kita agar mempersembahkan tubuh sebagai ibadah sejati (Rm. 12:1). Jika kerja dan hidup diwarnai dosa, bagaimana mungkin hidup kita bisa menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya? Jika demikian, kita sama saja dengan orang Samaria yang merasa saleh, tetapi kemudian dijatuhi hukuman Allah.

16.10.12

Tentang Agama Buddha (Oleh: Paulus Teguh Kurniawan)



Beberapa bulan yang lalu di mata kuliah agama di kampus saya, dosen saya memutarkan DVD film berjudul “The Life of Buddha”. Film yang dibuat BBC ini cukup bagus, karena terlihat bahwa BBC benar-benar melakukan penelitian, riset, dan survei mengenai kehidupan Buddha Gautama. Film ini menceritakan sejarah kehidupan Gautama, mulai dari kelahirannya hingga kehidupannya sebagai pendiri agama Buddha. Setelah menonton film tersebut, saya semakin tertarik untuk mempelajari agama Buddha. Saya berdiskusi dengan banyak orang Buddha, ikut diskusi di forum Buddha, dan juga membaca buku-buku dan artikel tentang Buddha. Berbagai pemikiran pun membanjir di kepala saya. Karena itu di artikel ini saya akan menceritakan secara singkat mengenai agama Buddha, dan juga tinjauan terhadap agama Buddha ini.

Kehidupan Gautama
Siddharta Gautama dilahirkan pada tahun 563 SM di India. Ia adalah seorang pangeran, anak dari Raja, sehingga ia adalah calon pewaris tahta kerajaan. Ayahnya sangat berharap ia akan menjadi pewaris tahta kerajaan yang hebat, sehingga ia berusaha membesarkan Gautama dengan sebaik mungkin. Siddharta hidup di tengah kemewahan. Ia mempunyai banyak pelayan. Selain itu, ia juga diberi pelajaran mengenai berbagai ilmu, dan Siddharta berhasil menguasainya dengan baik. Ia adalah seorang yang pandai.
Karena ada ramalan bahwa Siddharta akan menjadi Buddha, ayahnya berusaha menghindarkannya dari semua pemandangan tentang penderitaan. Ayahnya berusaha membuatnya hanya tahu kesenangan duniawi semata. Suatu hari Siddharta meminta izin untuk berjalan-jalan di luar istana. Saat itulah Siddharta melihat 4 pemandangan yang mengubahkan hidupnya.
Pertama, dia melihat di ladang. Ada banyak orang tua yang miskin, harus bekerja susah payah membajak ladang. Siddharta menyadari bahwa mereka sungguh menderita, sungguh kelelahan. Kedua, ia melihat orang yang sedang sakit. Kembali ia menyadari bahwa orang sakit ini sangatlah menderita. Dan ketiga, ia melihat orang yang sudah mati. Salah seorang pegawainya mengatakan padanya bahwa semua orang pada akhirnya juga akan mati. Di dalam ketiga pemandangan tersebut, pegawainya mengatakan padanya bahwa itu semua adalah hal yang biasa dan selalu terjadi di dunia ini. Dan keempat, Siddharta melihat seorang pertapa. Pegawainya mengatakan bahwa pertapa tersebut telah meninggalkan rumahnya untuk mencari jawaban akan realita dunia ini.
Selama 10 tahun, Gautama mengalami pergolakan di dalam batinnya. Pada akhirnya, di usia 29 tahun, ia meninggalkan istana. Ia telah bertekad mencari jawaban untuk melepaskan umat manusia dari “tua”, “sakit”, dan “mati”. Ia kemudian pergi berguru kepada beberapa pertapa terkenal.
Selama 6 tahun, ia bertapa menyiksa diri di hutan. Ia hanya memakan sebutir beras setiap harinya. Ia sangat menderita, sampai-sampai badannya hanya tinggal tulang. Gautama sadar bahwa bertapa seperti itu tidak akan membuatnya mencapai pencerahan sempurna. Pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menyiksa diri lagi. Ia kemudian pergi dan duduk merenung di bawah pohon Bodgaya. Ia bersumpah tidak akan pergi sebelum mencapai pencerahan sempurna.
Kemudian Gautama mengalami serangan mara, setan penggoda yang dahsyat. Pertama, setan menembakkan panah api kepadanya, namun Gautama tetap tenang dan mengubah panah tersebut menjadi dedaunan kering. Kemudian, setan muncul menjadi beberapa gadis yang menggoda Gautama. Namun Gautama hanya memandanginya tanpa perasaan apapun sampai akhirnya gadis-gadis itu terisap ke dalam bumi. Perlu diketahui di sini bahwa menurut pernyataan Gautama sendiri, setan tersebut berasal dari dalam dirinya sendiri, yaitu tidak lain merupakan penjelmaan sifat setan di dalam dirinya. Jadi setan tersebut tidaklah sama dengan konsep Kristen dan Islam yang meyakini adanya iblis yang berada di luar tubuh kita dan selalu berusaha mengganggu kita.
Kemudian setelah mengalahkan mara tersebut, Gautama mencapai pencerahan sempurna. Ia telah mencapai nirwana (keterlepasan dari penderitaan), ia telah mengetahui segala sesuatu. Ia kemudian juga mengingat seluruh rangkaian kehidupannya di masa lampau, banyaknya reinkarnasi (atau lebih tepatnya rebirth) yang ia alami. Singkat cerita, Gautama kemudian menyebarkan ajarannya tersebut, dan kemudian lahirlah agama Buddha. Ketika usianya mencapai 80 tahun, tubuhnya mulai lemah. Ia mengalami beberapa penyakit yang disertai keluhan-keluhannya pada kesakitannya tersebut. Dan kemudian ia akhirnya meninggal.

Sekilas Ajaran Buddha
Pengajaran Buddha dapat diringkaskan ke dalam 4 proposisi utama yang memiliki tema sentral “penderitaan”, yaitu masalah (The Disease), penyebab (The Cause), penyembuhan/penghentian (The Cure) dan terakhir jalan keluar (The Medicine). Dalam artikel ini saya tidak akan menjelaskan keseluruhan ajaran tersebut, karena itu akan membutuhkan banyak buku untuk menyelesaikannya, dan saya juga belum cukup berpengetahuan untuk melakukan hal tersebut. Saya akan membahas saja beberapa aspek pengajaran Buddha dari sudut pandang Kristen.

Keindahan Agama Buddha
Pertama, orang-orang yang tidak beragama Buddha, tidak boleh memandang rendah atau menjelek-jelekkan agama Buddha, hanya karena memiliki iman yang berbeda. Perhatikan bahwa Agama Buddha adalah agama yang sungguh indah. Gautama adalah orang yang sungguh-sungguh mulia. Ia bersedia meninggalkan seluruh kemakmurannya demi menolong umat manusia untuk lepas dari penderitaan. Ia tidak mencari kemuliaan diri sendiri, dan ini patut dicontoh. Agama Buddha juga mengajarkan begitu banyak nilai-nilai moral yang baik. Maka dari itu, kita semua tanpa terkecuali haruslah menghormati Agama Buddha maupun pemeluknya. Bagaimanapun, Agama Buddha adalah suatu agama yang baik. Namun demikian, saya tidak mengatakan bahwa ajaran Agama Buddha adalah benar. Saya menghormati Agama Buddha, tidak berarti saya menganggapnya benar. Sama seperti halnya saya menghormati Aristoteles, namun saya tidak menganggap semua ajarannya benar. Beberapa ajaran Aristoteles telah terbukti salah.

Tuhan Dalam Agama Buddha
Mungkin akan mengejutkan banyak orang jika saya mengatakan bahwa Agama Buddha adalah sebuah agama yang tanpa Tuhan, namun memang demikianlah kenyataannya. Dalam film buatan BBC tersebut, disebutkan sampai 2 kali bahwa Buddha adalah agama yang tanpa Tuhan. Ajaran tentang Tuhan tidak ada di seluruh ajaran Gautama tersebut. Gautama tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Tuhan; tidak juga mengajarkan tentang sifat-sifat Tuhan. Dan Buddha itu sendiri pun juga bukan Tuhan. Gautama sama sekali tidak pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan atau dewa, dan tidak pernah pula menyuruh dirinya dipatungkan atau disembah. Jadi apakah Buddha adalah agama yang ateis? Bisa jadi. Namun ada kemungkinan lain, yaitu: Gautama menganggap keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang mutlak pasti ada, sehingga dia tidak usah membahasnya. Memang pada zaman itu ateisme belum menjamur seperti sekarang. Mungkin Gautama berpikir,”Tuhan itu ada atau tidak, itu tidaklah penting; yang penting adalah berbuatlah baik dan capailah Nirwana”.

Namun demikian, ada suatu problem dalam konsep Gautama ini. Gautama mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi baik tanpa Tuhan. Dan lebih dari itu, Gautama bahkan mengajarkan bahwa manusia bisa mencapai keselamatan atau Nirwana tanpa Tuhan! Ini tentu kontras dengan konsep Kristen yang mengatakan bahwa manusia hanya bisa dilepaskan dari kuasa dosa oleh kuasa Tuhan, dan bahwa manusia hanya bisa memperoleh keselamatan karena pertolongan Tuhan.

Satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya adalah ini. Gautama mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi Buddha; mencapai kesempurnaan, hakikat tertinggi, kemahatahuan; dengan kata lain, menjadi hampir sama seperti Allah. Anda yang beragama Kristen mungkin ingat, bahwa tipuan iblis yang paling kuno adalah: manusia bisa menjadi sama seperti Allah. Tipuan inilah yang iblis gunakan untuk memperdaya Adam dan Hawa di taman eden. Saya bertanya-tanya apakah Gautama telah termakan oleh tipuan iblis ini dalam pencariannya tersebut. Menurut saya, kerinduan Gautama tersebut memang baik; namun kesalahan terbesar Gautama adalah, dia mencari jawabannya dengan kekuatan sendiri, dia bukan mencari jawabannya pada Sang Khalik. Seandainya dia berserah pada Sang Khalik untuk memperoleh jawabannya, saya yakin Sang Khalik akan memberikan jawaban atas pencariannya tersebut.

Hal ini berkaitan dengan salah 1 isu yang banyak dibicarakan di masa sekarang: apakah orang Buddha menyembah patung? Kenyataannya, Gautama sendiri tidak pernah menyuruh dirinya dipatungkan, apalagi disembah seperti itu. Gautama tidak pernah menyuruh pengikut-pengikutnya untuk berdoa minta pertolongan kepadanya. Gautama sama sekali tidak pernah menyuruh dirinya dituhankan. Gautama bahkan tidak pernah mengajarkan untuk menyembah siapapun, entah itu dewa atau Tuhan atau Buddha. Kenapa orang-orang Buddha membuat patung Buddha (bahkan banyak patung Buddha dibuat berukuran raksasa), berlutut dan berdoa di hadapannya? Saya yakin bahwa Tuhan telah menempatkan di dalam diri manusia naluri untuk menyembah suatu kuasa yang lebih tinggi. Karena naluri inilah semua kebudayaan di sepanjang sejarah selalu mempunyai objek untuk disembah, entah itu benda-benda gaib, patung, roh nenek moyang, dewa-dewi, pohon, dan sebagainya. Gautama tidak akan bisa menyangkali adanya naluri ini.






Doktrin Karma-Reinkarnasi
Karma dan reinkarnasi adalah konsep yang berasal dari Agama Hindu, dan kemudian diadopsi oleh Buddha dengan sedikit saja perbedaan. Doktrin ini menyatakan bahwa manusia mengalami kelahiran kembali yang tidak terbatas. Saat dilahirkan kembali, manusia akan lupa akan kehidupannya yang sebelumnya. Manusia akan terus berputar dalam lingkaran reinkarnasi ini, sampai manusia mencapai kesempurnaan. Setelah manusia mencapai kesempurnaan tersebut, manusia bisa “melompat keluar” dari lingkaran reinkarnasi ini dan masuk ke Nirwana. Sedangkan Karma adalah doktrin bahwa kita akan mendapatkan akibat dari segala hal yang telah kita perbuat, entah itu baik atau jahat. Akibat tersebut bisa saja terjadi di kehidupan kini, namun bisa juga terjadi di kehidupan yang akan datang, setelah reinkarnasi. Dan entah bagaimana, kaum Buddha menyamakan hukum karma ini dengan hukum alam. Mereka menganalogikan seperti hukum aksi-reaksi dalam fisika.

Saya mempunyai beberapa keberatan atas doktrin ini. Pertama: jika memang manusia pasti menerima akibat dari perbuatannya, kenapa banyak orang jahat yang justru hidupnya semakin makmur? Kaum Buddha biasanya menjawab bahwa ia akan menanggung akibat kejahatannya di kehidupannya yang kemudian. Namun jika demikian, ini berarti berkontradiksi dengan konsep mereka bahwa hukum karma=hukum alam. Dalam hukum aksi-reaksi fisika, bola yang didorong ke kanan pasti akan langsung bergerak ke kanan. Kehidupan orang jahat yang justru semakin makmur dan baru menanggung akibatnya kelak itu, bagaikan bola yang didorong ke kanan namun justru bergerak ke kiri; berjam-jam kemudian barulah tiba-tiba bola itu bergerak ke kanan.


Keberatan kedua saya berkaitan dengan reinkarnasi. Kaum Buddha meyakini bahwa orang yang terlahir miskin atau cacat mengalami itu karena menanggung akibat kejahatannya sendiri di kehidupan sebelumnya. Banyak orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kemalangan sejak lahir, dan itu akibat kejahatan mereka di kehidupan yang lampau, kata kaum Buddha. Saya mengajak anda sekalian untuk mempertimbangkan: jika memang demikian, kenapa setelah ribuan tahun manusia mengalami reinkarnasi, dunia ini justru semakin penuh dengan kebobrokan moral, bukannya semakin baik? Ditambah lagi, pada kenyataannya, doktrin ini tidak memberikan penjelasan berarti terhadap pertanyaan “mengapa manusia dan keinginan manusia itu selalu cenderung berbuat dosa?”


Keberatan ketiga saya adalah: tidak ada bukti atau alasan kuat yang mendukung konsep adanya reinkarnasi. Selama ini saya sudah pernah mencoba mengecek beberapa "bukti" yang disodorkan pihak buddhism; di antaranya tentang orang yg bisa mengingat kehidupan masa lalunya; namun saya temukan bahwa bukti itu tidak valid semua, kebanyakan sumbernya tidak jelas, tidak ada bukti identitas yang jelas, atau cuma rekayasa.

Keberatan keempat: Pikirkanlah baik-baik; seandainya anda sudah hampir mati nanti, anda sedang terbaring sekarat di rumah sakit dikelilingi orang-orang yang anda cintai; apa yang anda harapkan? Apakah anda mengharapkan reinkarnasi? Reinkarnasi tidak menjawab kerinduan terdalam kita; kita tentunya berharap kita bisa kembali hidup bersama sahabat-sahabat kita, kekasih kita. Mengharapkan persahabatan dan cinta yang abadi dalam damai. Itulah yang juga tersirat dalam banyak lagu-lagu zaman sekarang. Kita sudah menikmati banyak kenangan bersama sahabat, momen-momen romantis bersama kekasih; kita tidak ingin kehilangan semuanya itu begitu saja. Dan sekarang pikirkanlah: apakah reinkarnasi menjawab kerinduan itu. Dalam reinkarnasi, kita kehilangan semua sahabat kita, keluarga kita, kekasih. Kita kehilangan semua kenangan-kenangan indah. Bahkan seandainya kita bertemu mereka lagi setelah reinkarnasi pun, kita dan mereka sudah menjadi orang yang jauh berbeda. Apakah itu yang anda harapkan? Sungguh reinkarnasi adalah suatu konsep yang tragis dalam pandangan saya; saya yakin yang kita butuhkan adalah kehidupan damai bersama di surga kekal, bukan reinkarnasi.

Keberatan kelima: Konsep reinkarnasi saya anggap tidak masuk akal dari segi rasio. Buddhism tidak percaya adanya roh; jika demikian, sebenarnya reinkarnasi (atau lebih tepatnya tumimbal lahir) itu apa? Anggap saja saya bereinkarnasi menjadi seorang bernama andi. Kita bisa gambarkan: Paulus -> Andi. Lantas kesamaan apakah yang menghubungkan saya dengan seorang bernama Andi itu? Apakah Rohnya sama? No, buddhism tidak percaya adanya roh. Apakah tubuhnya sama? No, tubuh Paulus akan tetap membusuk di dalam peti mati, tidak mungkin tiba-tiba bangun dan berubah menjadi Andi. Apakah sifatnya sama? No, seorang bernama Andi akan terlahir sebagai seorang bayi dulu, cengeng dan kekanak-kanakan, kemudian baru perlahan-lahan menjadi dewasa. Apakah pengetahuannya sama? No, semua pengetahuan saya tentang ekonomi, agama, filsafat, sains dan sebagainya akan hilang; Andi harus mempelajarinya ulang mulai dari awal di bangku TK. Bahkan seandainya saya sudah menjadi umat buddhism yang cukup baik dan mempelajari banyak tntang buddhism, saya harus mempelajarinya ulang lagi mulai dari awal setelah reinkarnasi nanti. Di sini saya bisa menyimpulkan bahwa konsep reinkarnasi ini tidak masuk akal sekaligus sangat tragis; petaka yang amat buruk bagi umat manusia.

Keberatan keenam saya masih berkaitan dengan keberatan kelima. Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan di atas adalah: yang menghubungkan Paulus dengan Andi adalah karmanya. Akibat karma Paulus akan ditanggung oleh Andi. Aneh bukan? Setelah direinkarnasi, saya akan kehilangan keluarga, kehilangan pengetahuan saya, kehilangan harta saya, kehilangan kepribadian saya, namun secara "aneh bin ajaib" karmanya masih bisa terus melekat.Ini seakan-akan Paulus dan Andi adalah orang yang berbeda, namun akibat perbuatan Paulus justru ditanggung oleh Andi. Seandainya Andi mengerti tentang ini, mungkin dia akan protes sebagai berikut: "Kenapa saya harus menderita gara-gara Paulus? Saya ini bukan paulus! Roh saya beda dengan roh dia, sifat saya beda dengan sifat dia, dsb". Lihatlah betapa banyaknya orang di dunia ini yang menderita penindasan, kelaparan, dan sebagainya, padahal mereka orang baik. Apa salah mereka? Kaum buddhist biasanya menjawab bahwa itu akibat perbuatan jahat mereka di kehidupan lampau. Sungguh ironis; manusia harus menanggung akibat perbuatan mereka di masa lampau yang mereka tidak ingat sama sekali.Sebaliknya, dalam Kristen, kita akan dihakimi oleh Tuhan nantinya; semua perbuatan kita akan dibuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang ditutup-tutupi. Ingatan akan semua perbuatan kita akan dibuka, dan kita akan mempertanggungjawabkan semua itu secara adil. Mana yang mau anda pilih? Sekali lagi di sini saya menyimpulkan bahwa konsep reinkarnasi ini tragis dan tidak masuk akal.

Keberatan ketujuh saya berkaitan dengan siapakah yang mengatur hukum karma dan reinkarnasi ini. Bukankah Gautama tidak pernah mengajarkan apapun tentang Tuhan? Jika demikian, siapakah yang menciptakan hukum karma ini? Dan siapa yang mengatur jalannya hukum karma dan reinkarnasi ini? Kaum Buddha seringkali mengatakan bahwa semua sudah ada dengan sendirinya, sama seperti hukum alam, dan tidak diperlukan seorang pengatur atas semua hukum ini. Namun saya berikan analogi: hukum karma ini bagaikan tabel debet-kredit dalam akuntansi. Hutang karma kita akan dihitung, perbuatan baik kita akan dihitung. Lantas siapakah seorang akuntan yang menjalankan ini? Jika suatu hari anda melihat sebuah buku akuntansi yang berisi tabel debet-kredit yang tersusun rapi, bukankah anda pasti akan menyimpulkan bahwa ada seorang akuntan yang telah membuatnya?





Keberatan kedelapan saya adalah mengenai akibat dari kamma baik. Kaum Buddha mengatakan bahwa jika kita berbuat baik di kehidupan sekarang dan sedikit berbuat jahat, kita bisa memperoleh akibat baiknya di kehidupan sekarang ataupun mendatang. Akibat baik tersebut bisa berupa terlahir di keluarga kaya, atau terlahir di keluarga kerajaan, atau terlahir di kota yang makmur dan berkecukupan. Itulah yang juga dialami oleh Gautama; ia terlahir di keluarga kerajaan yang enak karena ia berbuat baik di kehidupan lampaunya. Jika dipikirkan secara mendalam, ada sesuatu yang sangat aneh di sini: Buddhism mengajarkan bahwa kekayaan, kesuksesan, kemakmuran dan sebagainya itu adalah hal yang duniawi dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan; jika demikian, kenapa perbuatan baik kita malah menghasilkan hal-hal yang duniawi seperti itu? Bukankah justru hal-hal duniawi seperti kekayaan dan ketenaran itu malah menyulitkan kita untuk mencapai nibbana (karena untuk mencapai nibbana kita harus melepaskan keduniawian kita)?

 
Keberatan kesembilan adalah tidak diikut-sertakannya tumbuhan dalam “pola” reinkarnasi. Buddhism percaya bahwa manusia bisa bereinkarnasi menjadi binatang, dan sebaliknya. Jika demikian, kenapa tumbuhan tidak diikut-sertakan juga? Bukankah tumbuhan juga merupakan makhluk hidup, sama seperti manusia dan binatang? Orang Kristen dan Islam tahu pasti bahwa tumbuhan berbeda dibanding manusia dan binatang, karena tumbuhan tidak memiliki roh, sedangkan manusia dan binatang punya. Namun Buddhism tidak mempercayai adanya roh; karena itu, jika Buddhism ingin konsisten terhadap pandangan mereka bahwa roh itu tidak ada, maka seharusnya tumbuhan juga diikut-sertakan dalam “pola” reinkarnasi itu.




Banyaknya Peraturan
Ravi Zacharias, salah 1 ahli perbandingan agama terbaik dunia saat ini, mendeskripsikan sebagai berikut tentang banyaknya peraturan dalam agama Buddha:
Mereka yang mengikuti ajaran Buddha diberi 30 aturan tentang cara terbebas dari jerat-jerat. Tapi bahkan sebelum menjalankannya, ada 92 aturan yang berlaku hanya untuk salah 1 dari pelanggaran tersebut. Ada 75 aturan untuk mereka yang ingin menjadi pengikut. Ada aturan-aturan disiplin yang harus dijalankan – 277 aturan untuk pria, 311 aturan untuk wanita. Ditambah adanya sejumlah kemungkinan yang tertulis rapi.

 

Dan Ravi Zacharias juga menulis demikian,
Serangkaian aturan seperti tali gantungan yang berayun-ayun mengejek di atas kepala, siap menjerat sekeliling leher jika ada yang bersalah. Semua hukum tingkah laku tertulis dalam berbagai inti ajaran Buddha...... Aku melihat rahib Buddha yang mengembara dengan membawa mangkuk di tangannya, mengawali setiap hari dengan harapan semoga mereka bisa melakukan aturan-aturan ini, tak seorangpun yang cukup yakin apakah mereka telah melakukannya.... Kenyataannya adalah begitu banyak orang yang mencari jalan penyangkalan ini. Sebagian duduk di gua-gua untuk bermeditasi seumur hidup dalam kesenyapan.

Ya. Gautama mengajarkan bahwa umat manusia yang mengalami penderitaan ini sudah menanggung beban hutang karma sejak lahirnya. Kemudian Gautama menyuruh untuk melakukan serangkaian aturan yang begitu banyak, yang begitu berat untuk bisa dilakukan. Sungguh beban besar yang telah diletakkan Gautama pada umat manusia ini! Gautama bahkan sama sekali tidak mengajarkan adanya Tuhan yang akan menolong manusia menanggung beban ini. Bagaimana mungkin agama seperti ini bisa memberikan kedamaian pada umat manusia?

Menarik untuk dicermati bahwa sejak dulu, orang Yahudi penganut Yudaisme pun juga mengalami problem yang mirip. Mereka harus berlelah menaati aturan-aturan hukum Taurat. Kepada orang-orang inilah, Yesus memberikan panggilan yang sangat indah, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:29-30). Saya meyakini bahwa hanya di dalam Yesuslah kita bisa memperoleh kelegaan atas semua beban tersebut. Yesus tidak menyuruh kita melakukan berbagai peraturan; sebaliknya, Ialah yang menggenapi seluruh peraturan tersebut untuk menyelamatkan umat manusia.

Tentang Nirwana
Penting bagi kita semua untuk mengetahui bahwa konsep nirwana dalam agama Buddha berbeda dengan konsep surga dalam Kristen atau Islam. Nirwana bukanlah suatu lokasi, melainkan suatu kondisi, yaitu keterlepasan dari penderitaan. Nirwana ini bahkan bisa dicapai saat kita masih hidup, dan Gautama sendiri juga mengklaim telah mencapai nirwana saat dirinya masih hidup. Saat kita masih hidup, dan kita sudah terlepas dari segala penderitaan, saat itulah kita berada di nirwana. Seperti apakah nirwana ini? Nirwana ini tidak bisa kita mengerti kecuali saat kita mencapainya. Analogi berikut ini mungkin bisa membantu. Bayangkan saja dunia ini adalah dunia yang tanpa suara. Seperti apakah dunia tanpa suara itu? Tentu kita akan sulit membayangkannya, karena selama ini kita hidup di dunia yang penuh suara. Demikian juga dengan nirwana. Kita selama ini hidup di dunia yang penuh penderitaan, jadi pasti sulit bagi kita untuk membayangkan “keterlepasan dari penderitaan” tersebut.

Yang jadi pertanyaan di sini, apakah benar Gautama telah mencapai nirwana tersebut saat ia masih hidup? Apa benar bahwa ia telah sepenuhnya terlepas dari penderitaan? Film dari BBC tersebut menceritakan bahwa ada bukti-bukti bahwa Gautama mengeluh mengenai kesakitan yang dideritanya di masa tuanya. Ada kaum Buddha yang mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa Gautama memang terlepas dari penderitaan mental, tapi belum terlepas dari penderitaan fisik. Menurut saya jawaban ini lemah karena orang yang mentalnya tidak menderita pasti tidak akan mengeluh. Selain itu, jika nirwana hanyalah sekedar keterlepasan dari penderitaan mental saja, maka masih ada banyak cara lain untuk terlepas dari penderitaan mental. Contohnya adalah tidur dan mendengarkan musik, yang membuat kita lupa akan semua penderitaan mental kita. Mengenai pencerahan yang diperoleh Gautama beserta munculnya rangkaian kehidupan-kehidupan reinkarnasinya tersebut, patut dipikirkan bahwa Gautama mengalami fenomena itu ketika tubuhnya sangat lemah dan lelah, baik secara fisik maupun mental, mungkin juga diliputi perasaan frustrasi. Fenomena apa yang mungkin terjadi ketika seseorang dalam kondisi tubuh seperti itu? Para pakar psikologi mungkin bisa memberikan pendapatnya dalam hal ini.


Beberapa Kontradiksi
Selain aspek-aspek yang sudah saya cermati di atas, saya juga mencermati adanya beberapa kontradiksi yang tak terhindarkan dalam pengajaran Buddha. Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu bersifat sementara; suatu perkataan yang bersifat self destroyed, berkontradiksi dengan dirinya sendiri, karena: jika memang segala sesuatu bersifat sementara, berarti kata-kata Gautama itu sendiri juga bersifat sementara. Selain itu juga adanya kontradiksi yang tak terhindarkan dalam pengajaran Gautama untuk melenyapkan segala bentuk keinginan. Gautama mengajarkan bahwa keinginan kitalah sumber penderitaan kita, karena itu segala bentuk keinginan kita harus dilenyapkan. Namun hal ini membawa pada sebuah kontradiksi: bagaimana dengan keinginan untuk menjadi Buddha? Apakah kita juga harus melenyapkannya?

Kesimpulan dan Penutup
Selama berabad-abad, Agama Buddha telah menjadi salah satu agama terbesar di dunia, dengan jutaan pengikut di seluruh dunia. Kenapa agama ini bisa mendapatkan pengikut yang sedemikian banyak? Karena alasan yang sama dengan alasan Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman eden: mereka ingin menentukan hidup mereka sendiri terlepas dari Allah. Mereka ingin menjadi sama seperti Allah. Mereka ingin menjadi baik tanpa Allah. Mereka ingin mencapai keselamatan dan terlepas dari penderitaan dengan kemampuan sendiri, tanpa Allah.

Bagi anda yang beragama Buddha, saya menyarankan anda merenungkan kembali iman yang anda pegang. Berdoalah pada Sang Khalik untuk menunjukkan kebenaran kepada anda. Allah yang mahakasih selalu menunggu anda dengan tangan terbuka. Ia terus mengetuk pintu hati anda, menunggu anda untuk menyerahkan diri kepada kuasa dan kasih-Nya. Percayalah, Ia akan membebaskan anda dari semua beban anda, dan memberikan keselamatan yang anda butuhkan.

Dan kepada anda yang Kristen, saya perlu menekankan sekali lagi bahwa betapapun salahnya agama Buddha ini, kita semua tanpa terkecuali haruslah menghargainya. Ada banyak nilai-nilai moral yang baik yang diajarkan oleh Gautama, yang tidak bisa saya sebutkan semuanya di dalam artikel ini. Gautama sendiri patut dikenang sebagai tokoh yang berhati mulia. Bagaimanakah kita orang Kristen harus bersikap pada orang Buddha? Kita harus memandang mereka sebagai domba yang terhilang, yang sangat membutuhkan berita Injil. Kita tidak boleh bertindak sebagai serigala yang menerkam habis agama Buddha; sebaliknya, kita harus membawa kabar Injil; sebuah kabar baik, indah, dan damai, yang dibutuhkan orang-orang Buddha.

Orang Buddha adalah orang-orang yang membutuhkan belas kasih dan pengampunan, serta perdamaian dengan Allah; mereka bukan serigala yang harus dimusuhi. Ingatlah bahwa sepanjang sejarah, orang Buddha tergolong jarang terlibat dalam pertikaian antar agama. Orang Kristen harus belajar dari orang-orang Buddha setidaknya dalam 2 hal: Pertama, mereka bisa menjalin kerukunan antar aliran mereka. Meskipun mereka terpecah menjadi banyak aliran, mereka bisa saling menghargai satu sama lain. Kedua, mereka sangat menghargai agama-agama lain. Mereka bisa menghargai perbedaan pendapat. Orang Kristen perlu belajar dari mereka dalam hal-hal positif yang mereka miliki. Dan di atas semuanya itu, kerukunan antar agama harus tetap selalu dijunjung. Soli Deo Gloria!


Referensi:
Zacharias, Ravi. The Lotus and The Cross.2006.Bandung: Pionir Jaya.
Zacharias, Ravi. Jesus Among Other Gods.2006. Bandung: Pionir Jaya

Setelah Kematian: Surga dan Neraka (Oleh: Paulus Teguh Kurniawan)

Pendahuluan
Saat ini seringkali muncul pertanyaan terkait surga, neraka, dan kehidupan setelah kematian. Ke manakah roh manusia setelah manusia mati? Seperti apakah surga dan neraka itu? Apakah api penyucian itu ada? Apakah Allah yang pengasih tega menyiksa orang selama-lamanya di neraka? Dalam artikel ini penulis akan memberikan analisis teologis mengenai isu-isu tersebut dan juga membahas beberapa kesalah pahaman yang seringkali terjadi.

Setelah Kematian
Ke manakah roh manusia setelah manusia mati? Teologi katolik menjawab bahwa roh manusia akan berada di api penyucian, baru kemudian masuk ke surga. Bagaimanapun, pandangan ini tidak konsisten dengan Alkitab, murni hasil pemikiran filosofis belaka (penulis akan membahasnya lebih mendalam di bagian akhir artikel ini). Beberapa orang Kristen menjawab bahwa roh tersebut akan menuju tempat penantian, di mana roh-roh tersebut menantikan penghakiman Allah di akhir zaman. Pandangan inipun tidak konsisten dengan Alkitab. Tidak ada 1 ayatpun di Alkitab yang menyebutkan adanya tempat penantian tersebut. Baik pandangan tentang api penyucian maupun tentang tempat penantian, keduanya berkontradiksi dengan janji Yesus kepada orang yang disalibkan di sebelah-Nya. Yesus menjanjikan Yesus menjanjikan, “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43). Dari kata-kata Yesus ini saja sudah jelas ke manakah roh manusia setelah mati: tentu saja langsung menuju ke surga atau neraka! Namun kita seringkali dibingungkan dengan penghakiman terakhir di akhir zaman, di mana disebutkan bahwa Tuhan akan menghakimi orang yang hidup maupun yang mati. Jika manusia yang mati langsung menuju surga atau neraka, kenapa mereka masih harus dihakimi lagi di akhir zaman? Kita harus mengingat bahwa Alkitab dengan konsisten menyebutkan bahwa di surga maupun neraka akan ada tingkatan-tingkatan tertentu, yang diperuntukkan kepada tiap orang sesuai dengan apa yang mereka hasilkan dalam hidup mereka di dunia. Jika demikian, tentu tidak aneh jika orang yang sudah mati masih akan dihakimi lagi di akhir zaman. Mereka memang sudah ditentukan masuk surga atau neraka, namun di akhir zaman mereka akan dihakimi untuk menentukan tingkatan surga/neraka yang mana yang sesuai untuk mereka (pembahasan mengenai penghakiman di akhir zaman akan dibahas lebih lanjut di akhir artikel ini).

Neraka
Seperti apakah neraka itu? Ini adalah salah satu hal yang paling sering disalah mengerti oleh orang-orang Kristen saat ini. Neraka digambarkan sebagai tempat di mana orang-orang berdosa disiksa selama-lamanya, mengalami penderitaan kekal oleh api yang tiada henti menyiksa mereka. Tidak aneh ada orang-orang yang keberatan dengan iman Kristen karena isu neraka ini. Apakah Allah yang pengasih begitu tega menyiksa orang sampai selama-lamanya hanya karena gagal dalam kehidupan yang hanya 1 kali? Sebagaimana yang dikatakan oleh Charles Templeton, “Aku tidak mungkin memegangi tangan seseorang di atas api sekejap pun. Tidak sekejap pun! Bagaimana bisa Allah yang pengasih menyiksa anda selamanya—bahkan tidak membiarkan anda mati, tapi merasakan penderitaan itu selama-lamanya? Tidak seorang kriminal pun yang mau melakukan hal itu!”. Gambaran neraka tersebut benar-benar salah. Neraka bukanlah tempat penyiksaan. Neraka adalah tempat di mana seseorang dipisahkan selama-lamanya dari hadirat Allah, namun bukanlah tempat penyiksaan. Justru Allah menciptakan neraka karena Ia menghormati kebebasan manusia. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang selama hidupnya menolak Allah. Selama di dunia, mereka masih mempunyai beberapa kebaikan hati dan moral oleh karena anugerah Allah, namun di akhir zaman, mereka akan menjadi “dirinya sendiri”. Mereka yang menolak Allah akan menjadi jahat seluruhnya. Karena selama hidupnya mereka tidak mau bersama Allah, apalagi setelah mati. Mereka akan lebih suka tinggal di neraka, daripada bersama Allah di surga. Karena itulah Allah menciptakan neraka, untuk memenuhi keinginan mereka sendiri. Dalam hidup mereka di dunia, tiap harinya mereka tidak peduli tentang surga, di sanalah mereka membuat keputusan tiap harinya untuk menolak surga dan lebih suka hidup untuk dirinya sendiri. Karena itulah, Allah menuruti kemauan mereka, menyediakan tempat di mana mereka hidup untuk dirinya sendiri, terlepas sepenuhnya dari Allah. Dan itulah neraka.
Dalam zaman modern ini, kita cenderung mengartikan “kebaikan” sebagai hal-hal yang terkesan lembut seperti kesabaran, kelemah lembutan, memaafkan, dan lain-lain, namun kita seringkali lupa bahwa kebaikan juga mencakup keadilan dan rasa hormat pada kebebasan dan pilihan seseorang. Di neraka memang tidak ada penyiksaan, namun dipisahkan dari hadirat Allah adalah suatu derita yang melebihi apapun yang dapat kita bayangkan. Mereka akan hidup selamanya dalam kekosongan, kehampaan, tanpa ada satupun hal yang baik bagi mereka. Berbagai gambaran di Alkitab tentang neraka seperti api, ratap dan kertak gigi, (Matius 13:42; Matius 24:51) bukanlah menunjukkan tentang siksaan kekal di neraka, melainkan bermakna kiasan bahwa neraka adalah tempat keputusasaan yang tiada duanya. Sebagai contoh, neraka digambarkan sebagai tempat dengan kegelapan total (Matius 25:30; Matius 22:13), namun juga dipenuhi api (Wahyu 20:15). Bagaimana mungkin? Api pastilah akan memberikan cahaya. Yesus juga pernah menggambarkan neraka sebagai tempat di mana cacing-cacing terus memakan daging manusia (Markus 9:48). Ini juga merupakan kiasan. Pada zaman Yesus, ada sistem saluran untuk mengalirkan darah dan lemak dari binatang-binatang yang dikorbankan di bait Allah, saluran tersebut mengalirkannya ke luar tembok kota, di mana semuanya dikumpulkan ke sebuah kolam. Di kolam itu ada cacing-cacing yang terus memakannya. Tempat itu sangat mengerikan untuk dilihat. Yesus menggunakan kiasan ini untuk mengatakan bahwa neraka itu lebih menjijikkan daripada kolam tersebut. Orang-orang yang beranggapan bahwa neraka adalah tempat penyiksaan menganggap bahwa Allah bagaikan seorang anak kecil yang mengatakan “kalau kau tidak mau menuruti perintah-Ku, akan kusiksa kamu selama-lamanya dengan api neraka!”. Itu sama sekali jauh dari kebenaran.
Selain itu, ada juga orang-orang yang merasa keberatan dengan neraka karena mengira bahwa setiap orang akan mengalami penderitaan yang sama di neraka. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa di neraka ada tingkatan-tingkatan tertentu untuk tiap orang sesuai dengan perbuatannya selama di dunia. Kita bisa mengetahuinya dari kata-kata Yesus di Matius 11:20-24. Beberapa orang lagi bertanya, “Tidak bisakah Allah membuat semua orang masuk surga saja?”. Tindakan seperti itu justru merupakan tindakan yang tidak bermoral bagi Allah. Itu berarti Allah menciptakan manusia sebagai “mainan-mainan” yang dibuat hanya untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri, tanpa mempedulikan keinginan dan pilihan manusia itu sendiri. Selain itu, bagaimana Allah bisa dianggap adil jika Ia hanya menyelamatkan semua orang tanpa ada yang binasa? Penulis akan memberikan suatu analogi sederhana. Jika dalam pengadilan ada seorang hakim yang selalu membebaskan terdakwanya, tidak ada yang dia hukum, apa dia akan dianggap hakim yang baik dan adil? Sekali lagi penulis menekankan bahwa dalam zaman modern sekarang ini, kita cenderung menganggap kebaikan itu identik dengan hal-hal yang lembut seperti mengampuni, sabar, dan lain-lain. Ini sangat menyimpang dari hakikat “kebaikan” yang sebenarnya.
Jika demikian, kenapa Allah tidak memberikan kesempatan kedua kepada manusia? Perlu kita perhatikan bahwa sebenarnya Allah pun merasa tidak nyaman dengan adanya neraka (Matius 23:37; Yesaya 38:17; Yehezkiel 33:11; Yehezkiel 18:23). Disebutkan pula bahwa Allah sudah memperpanjang kesempatan bagi orang-orang untuk bertobat (Wahyu 10:6; Wahyu 6:10). Kita sebenarnya sudah melihat belas kasihan Allah di sini. Jika setelah mendapat kesempatan itupun manusia masih tidak mau bertobat, kenapa Allah harus memberi kesempatan kedua? Selain itu, jika Allah memberi mereka kesempatan kedua setelah mereka melihat mengerikannya neraka itu, maka pertobatan orang-orang itu bukanlah berdasarkan ketulusan, melainkan karena terpaksa, karena takut pada neraka. Pertobatan yang demikian bukanlah pertobatan; itu tidak akan menghasilkan kasih kepada Allah.
Bisa disimpulkan bahwa keberadaan neraka bukanlah menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang kejam dan tidak berbelas kasihan. Sebaliknya, Ia menciptakan neraka karena Ia menghormati kebebasan manusia yang diciptakan-Nya. Ia tidak menciptakan manusia sebagai “mainan-mainan” yang semata-mata digunakan-Nya hanya untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri. Sebaliknya, Ia memberikan manusia kebebasan untuk memilih dan memiliki sendiri tujuan mereka.

Surga
Jika neraka adalah tempat di mana manusia dipisahkan dari hadirat Allah, sebaliknya, surga adalah tempat di mana manusia akan menikmati hadirat Allah selama-lamanya. Dan inilah kenikmatan yang paling besar, suatu kenikmatan yang sungguh tidak terbayangkan. Sama seperti neraka, di surga juga ada tingkatan-tingkatan tertentu. Kita bisa mengetahui ini dari Lukas 12:47-48; 19:16-19; 1 Korintus 3:14-15. Manusia akan dimuliakan di surga. Mungkin bagi kita, dimuliakan dan menikmati hadirat Allah bukanlah sesuatu yang kelihatan begitu indah. Namun, kita harus ingat bahwa di surga, kita tidaklah mendapat kemuliaan dunia, melainkan kemuliaan surga. Dan keindahan hadirat Allah tersebut adalah sesuatu yang memuaskan seluruh perasaan kita, yang kita tidak bisa membayangkannya saat ini.
Berbeda dari konsep agama-agama lain, di mana kita berusaha melakukan berbagai hal untuk memperoleh keselamatan; entah itu dengan berbuat baik, dengan memperoleh pengetahuan, atau apapun; dalam Kristen, yang berperan dalam keselamatan kita adalah Sang Allah sendiri. Saat di surga, kita akan menyadari betapa besar anugerah yang kita terima, betapa sebenarnya kita tidak layak mendapat anugerah yang begitu besar. Kita akan menyadari dengan sepenuhnya kebesaran Allah dalam karya penciptaan-Nya, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan keadilan-Nya di akhir zaman di mana Ia akan melenyapkan dosa, maut, dan penderitaan, membawa kita kepada kebahagiaan tertinggi di mana kita bisa bersama-Nya di surga. Tidak ada lagi kesakitan, kehausan, kelaparan, kematian atau penderitaan apapun (Wahyu 21:4). Ini adalah konsep yang hanya ada dalam Kristen saja: Allah berinisiatif menyelamatkan manusia, rela mati untuk manusia, agar manusia bisa menikmati kebahagiaan tertinggi tersebut. Demikianlah di surga kita tidak akan lagi mengingini makanan, pujian, ataupun lainnya; sebaliknya, pikiran kita akan selalu dipenuhi rasa syukur dan kekaguman yang luar biasa akan anugerah Allah yang begitu besar. Inilah konsep surga yang paling indah, yang tidak ada dalam agama manapun selain Kristen.

Lalu, bagaimana dengan doktrin api penyucian?
Teologi katolik mengatakan bahwa setelah kita mati, kita akan berada di api penyucian. Di api penyucian ini kita akan mengalami siksaan api untuk melunasi akibat dosa kita. Setelah dosa kita lunas terbayar di api penyucian barulah kita masuk ke surga. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa api penyucian hanyalah murni pemikiran filosofis belaka. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa di neraka sekalipun, Allah tidak menyiksa manusia dengan api. Karena itu, jika di neraka saja manusia tidak disiksa, tentunya sangat aneh jika orang-orang benar yang akan masuk surga justru mengalami penyiksaan api. Konsep api penyucian ini tidak hanya tidak Alkitabiah, melainkan juga merendahkan nilai pengorbanan Yesus. Yesus sudah tuntas menanggung akibat dosa kita (Yohanes 5:24; Ibrani 10:14); gagasan api penyucian merendahkan kecukupan karya Kristus ini. Alkitab juga dengan konsisten menyebutkan bahwa kematian bagi orang benar merupakan istirahat mereka, bukan saatnya untuk menanggung penyiksaan lagi. Daniel 12:13; Wahyu 6:11, 14:13 menyebutkan hal ini.

Apa jelasnya yang akan terjadi di akhir zaman?
Di awal telah disebutkan bahwa di akhir zaman akan ada penghakiman terakhir di mana orang-orang akan ditentukan untuk mendapatkan tingkatan surga/neraka yang mana. Selain dari itu, orang-orang benar yang sudah mati akan dibangkitkan (1 Korintus 15:35-58, Filipi 3:21). Roh mereka yang sebenarnya sudah berada di surga akan kembali ke tubuh jasmani mereka, lalu tubuh mereka akan diubah menjadi tubuh baru, tubuh yang sempurna, tubuh yang sorgawi. Mungkin ini mengejutkan kita karena selama ini kita berpikir bahwa kita hanya akan berupa roh di surga. Bagaimanapun, di Alkitab jelas diceritakan bahwa Yesus dan Elia naik ke surga tidak hanya rohnya saja, melainkan juga beserta dengan tubuh. Kenapa perlu ada penghakiman terakhir? Dalam penghakiman terakhir, Allah akan menunjukkan dengan sempurna segala kebaikan dan keadilan-Nya. Saat itulah semua ciptaan akan melihat dengan sempurna penggenapan semua janji-janji Allah dan penuntasan karya-Nya.

Penutup
Artikel singkat ini tidak mungkin cukup untuk mengulas habis semua teologi tentang surga dan neraka. Seperti yang sudah penulis sebutkan bahwa penulis hanya bermaksud menjawab beberapa kesalahpahaman yang umum terjadi dan beberapa pertanyaan yang membingungkan kita, terutama yang membuat orang-orang meragukan bahkan menolak iman Kristen. Penulis mengajak kita semua untuk tidak hanya memandang artikel ini sebagai tambahan pengetahuan saja. Mari kita merenungkan sejenak betapa besar anugerah Tuhan yang telah menebus dosa kita, menyediakan upah surga yang begitu indah, yang sebenarnya tidak pantas kita terima. Ia yang tetap mengasihi manusia-manusia berdosa, menyediakan neraka yang bukan merupakan tempat penyiksaan padahal sebenarnya Ia mempunyai hak dan kuasa untuk menyiksa mereka. Kiranya artikel ini membuat kita semakin menyadari kasih Allah bagi kita dan membuat kita senantiasa hidup dalam pengharapan kita akan keselamatan dari Allah. Soli deo gloria!



666 - Info bersama


Mungkin ada ratusan tafsiran tentang maksud dan arti dari bilangan 666. seperti beberapa contoh berikut:

1. Irenius, pada tahun 130-202 AD mengatakan bahwa bilangan 666 adalah angka dari Latinisasi. Latin dalam bahasa Yunani: Lateinos, L =30, A =1, T =300, E =5, I =10, N=50, O =70, S =200, jadi jumlahnya 666. Sebab setiap huruf Latin melambangkan satu angka tertentu.

2. Pendapat yang berdasarkan mitos Yunani, menunjukkan seorang penentang bernama: Teitan, jumlah angka bagi namanya adalah: T =300, E =5, I =10, T =300, A =1, N =50, jumlah seluruhnya menjadi 666.

3. Diambil dari arti Arnoumai, artinya saya menyangkal. Kata ini menyatakan suatu pengakuan bahwa “saya menyangkal Kristus”, dan inilah 666. Sebab A=1, R=100,N=50, O=70, U=400, M=40, E=5, jumlahnya menjadi 666.

4. Nama Latin untuk Kaisar Nero adalahNeron, N=50, E=6, R=500, O=60, N=50, jumlah seluruhnya =666.

5. Pada masa perang dunia kedua, seorang dokter yang bernama Kepler sebagai perancang bahwa A=100, B=101, untuk menghitung jumlah nilai bagi nama Hitler, H=107, I=108, T=119, L=111, E=104, R117, jumlah =666. Kesimpulan ini adalah permainan kata, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

6. Banyak penafsir dewasa ini menganggap Kaisar yang menganiaya jemaat secara hebat pada jaman rasul Yohanes itu adalah Kaisar Nero, maka angka 666 ini menunjukkan raja Nero.

7. Angka 666 dalam bahasa Yunani adalah Hexkoaioi hekekonta hex. Singkatan nama untuk Kristus ialah xs, bentuk huruf seperti ular, dan lafal kata ini adalah ks seperti suara yang dikeluarkan oleh ular. Maka dijelaskan sebagai tanda bagi anti Kristus atau Kristus palsu.

Untuk mengerti angka 666 ini yang penting di sini adalah hikmat. Bilangan binatang tidak langsung jelas terlihat. Untuk memahaminya perlu dipikirkan dan direnungkan terlebih dahulu. Yang dimaksudkan dengan hikmat bukan hanya akal budi saja, tetapi pikiran yang diterangi oleh Roh Kudus. Menghitung bilangan binatang itu: yang dimaksudkan bukan mencari hitungan atau mengurai bilangan ini seperti teka-teki, tetapi memikirkan dan merenungkannya agar kita paham apa maksudnya. Wahyu tidak mengatakan teka-teki kepada kita, tetapi memperlihatkan lambang-lambang guna menjelaskan pekerjaan Tuhan dan usaha iblis untuk merusakkannya. Wahyu tidak menyembunyikan kehendak Allah bagi kita, tetapi memberi petunjuk, nasihat dan penghiburan agar kita mengenal kehendak Tuhan dan setia menurutinya.

666 - tanggapan tentang 666




13:16 Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya,
13:17 dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.
13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

Yang Penting disini adalah HIKMAT...
Bukan bilangannya melulu,
666, tidak akan secara VULGAR dijadikan merek.
Semua yang terjadi di dunia saat ini, di Indonesia khususnya, masih mengundang PRO dan KONTRA
Seperti Chip satelit 666 yang dikeluarkan oleh MONDEX international Company,yang kata launching tgl 12 Mei 2008, GSM AXIS (yang katanya ANTI Xris Is Satan), atau kartu merah, dan lain sebagainya.
Semua belum mengarah pasti dan akurat ke Injil Wahyu.
Karena Di Wahyu sendiri dengan jelas dikatakan yang penting adalah HIKMAT...
Dan bila saatnya tiba, angka yang digunakan 666 akan dipaksa dipakai oleh kita, apabila tidak, kita tidak bisa melakukan transaksi apapun.
Tapi sekarang ini kan semuanya belum dipaksa, ya jadi jelas, masanya belum tiba.
So kalo mau pake 666,777. atau 888 ya no problem...

kita harus jadi orang kristen yang bijak, dan penuh hikmat...
So,.Number 666? NO PROBLEM......


Peace all of you

666 dari perspektif Komputer

Komputer dan jaringannya diramalkan menjadi salah satu tanda akhir jaman, mahluk yg satu ini, pada awalnya dibuat untuk membantu manusia dalam melakukan perkerjaanya.
Namun pada perkembangannya, komputer telah dan akan mengambil alih banyak peran yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara tidak sadar manusia telah menyerahkan kehidupannya pada komputer.

Sekarang ini banyak sekali bidang kehidupan yg dalam pengambilan keputusannya dilakukan oleh sistem jenius yg bernama komputer ini.
Tren perkembangan teknologi saat ini, sebagai contoh handphone dan internet seakan bermuara pada satu titik yaitu teridentifikasinya setiap individu manusia yang terhubung pada sebuah jaringan global yg di dalamnya telah terdapat sebuah sistem yg mengaturnya (baca menguasainya).

Kini si mahluk yg bernama komputer dan jaringan ini sedang dijejali oleh berbagai ilmu pengetahuan, kemampuan, dan kapasitas hingga suatu saat nanti akan benar-benar menguasai kehidupan manusia.


C : 3 x 6 = 18
O : 15 x 6 = 90
M : 13 x 6 = 78
P : 16 x 6 = 96
U : 21 x 6 = 126
T : 20 x 6 = 120
E : 5 x 6 = 30
R : 18 x 6 = 108

TOTAL = 666


Bukan hanya COMPUTER, dalam dunia industri komputer, nama Bill Gates pun terkena imbasnya. Nama Bill Gates III, jika dikonversi ke dalam kode ASCII (American Standars Code for Information Interchange) akan berjumlah 666. Demikian juga dengan MS-DOS 6.21 dan Windows 95.

Lebih jauh, sebuah situs internet mengkampanyekan untuk berhenti mengakses internet, sebab WWW sebetulnya adalah V/ V/ V/ atau VI VI VI yang dalam angka Romawi menunjukkan 666. Dalam Bahasa Ibrani, 666 juga diwakili oleh waw-waw-waw. Herannya, kampanye itu dikampanyekan melalui sebuah situs yang juga menggunakan WWW di depannya.

666 - Sekadar Informasi

provide it here to illustrate how people can become too focused on the unholy number.



A Collection of Numbers of the Beast



666 Number of the beast
668 Neighbor of the beast
660 Approximate number of the beast
DCLXVI Roman numeral of the beast
666.0000 Number of the high-precision beast
0.666 Number of the millibeast
1010011010 Binary number of the beast
-666 Negative number of the beast
00666 Zip code of the beast
Route 666 Way of the beast
665 Older brother of the beast
667 Younger brother of the beast
666 UP Soft drink of the beast
666 F Oven temperature for cooking roast "beast"
1-800-666-6666 Toll-free number of the beast
999 Australian number of the beast
66.6 GHZ Computer processor of the beast
666i BMW of the beast
66.6 MHz FM radio station of the beast
666 KHz AM radio station of the beast
Chanel No. 666 The beast's favorite perfume
666% What the beast gives in his game



Angka 666 disebut juga the Number of the Beast, jadi orang2 berpikir tahun 666 adalah tahun permulaan dari Antichrist.

Ketakutan akan angka 666 dikenal sebagai hexakosiohexekontahexa phobia.

Mengapa kita tidak boleh bergosip?



Jawabannya sangat singkat dan mudah: "karena Allah tidak menginginkannya".

Roma 1:28-31
Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

2 Korintus 12:20
Sebab aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.

Gosip adalah seperti kanker, ia dapat berkembang secara perlahan tanpa anda menyadarinya, tapi pada akhirnya bisa sangat merusak.
Gosip dapat merusak persahabatan.
Gosip dapat menyebabkan perpecahan dalam gereja.
Gosip dapat merusak atau menghancurkan reputasi yang baik.
Gosip dapat memicu kebencian, perselisihan dan kedengkian.
Gosip adalah salah satu dosa yang dilakukan oleh lidah.
Seperti yang tertulis dalam Yakobus 3:8 : tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

Kesaksian Individu Lain

hai, saya sande, saya mau berbagi cinta kasih Tuhan pada saya. waktu itu saya duduk di kelas 2 smkdi pdk bambu jak tim seblmnya kepala saya memang sering sakit krn wkt kecil sy pernah jatuh dari tempat tidur shg kepala saya sering sakit smp pada sy duduk di kls 2 smk kejadian yg tdk diduga n tdk pernah sy harapkan terjadi. Siang itu, wkt sdg belajar tiba2 sy merasakan skt kepala yg luar biasa, sy ikir itu adl hal yg lumrah krn sy sering mersakannya smp mata saya jd gelap dan biasanya tdk lama kemudian sy tetap bisa melihat lg krn saya pikir itu biasaterjadi pd diri saya tp siang itu, berbeda seblm sy merasakan sakit pd kepala sy seblmnya entah kenapa sy slalu memandang ke langit seolah2 itu sperti terakhir kalinya sy memandang langit (ciptaan Tuhan). Sy begitu menikmatnya. Tp sakit kepala siang itu benar2 berbeda, ketika menutup mata sya sambil menahan sakit tiba2 pandangan sy seperti tertutup darah (darah turun ke mata) ypikiritu hy sementra sy berusahautk membukamata saya tp tdk bisa akhirnya saya panik n berteriak teman2 sekelas sy menghampiri sy mereka melihat sy berjln dgn mata tertutup sambil berteriak n menangis.Saya pikir sy akan buta.Erika salah satu teman sy memeluk sy erat, dia bantu sy berdoa pd Tuhan. Dia menenangkan sy mungkin hy lengket ktanya setelah keluar air mata coba kmu buka kembali mata kmu, tp tetap tdk bisa. Saat itu sy berdoa n berserah pd Tuhan, sy teringat FirmanNya dlm doa sy ya, Bapa jk Engkau mampu menyembuhkan wanita yg sakit pendarahan selama 12 th kenapa Engkau tdk bsa menyembuhkanku, Jk Engkau menyembuhkan seorang buta kiranya Engkau mau hadir di hadapanku utk sembuhkanku,, Ya , Bapa ampunilah hambaMu yg berdosa ini sekiranya jk hambamu ini tdk pantas Engkau sembuhkan krn dosa , ya Bapa lihatlah keadaan kelkuaku sgt tdk ingin membuat mereka jd repot n bertengkar krn aku..Bap perhatikanlah doaku, kiranya Engkau mu menyembuhkanku saat ini jga.. Aku serhakan hidupku kedlm tanganMu ya Bapa, amien.. Tdk lama kemudian, setelah sy selesai berdoa n menyerahkan semuakedalam tanganNya, tiba2 pandangan sy yg gelapgulita berubah menjadi merah, kemudian sedikit demi sedikit mata sy terbuka.. Puji Tuhan sy sangat bersyukur Tuhan Yesus sembuhkanku, Dia kembalikan penglihatanku.. Dan smp sekarang sy tdk pernah merasa sakit kepala spt itu lg. Thank's Jesus, krn Engkau memberikan kasih karuniaMu padaku.. Amien..
Semoga kesaksian sy menjadi dampak yg positif bagi kalian smua yg membacanya, amien.. Tuhan Yesus memberkati..

Anda mungkin nak baca ni . . .

Blog Widget by LinkWithin

VIDEO ROHANI (Jatuh dalam dosa)

Inspirasi buat anda